Hubungan Antara Self-concept Terhadap Matematika dengan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa

Hubungan Antara Self-concept Terhadap Matematika dengan

Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa

Risqi Rahman

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, Indonesia

risqirahman@yahoo.co.id

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan hubungan berpikir kreatif dengan self-concept Desain penelitian ini adalah survey. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kreatif dan skala self-concept siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 13 Jakarta dengan sampel penelitian siswa kelas VII sebanyak dua kelas yang dipilih secara cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data kemampuan berpikir kreatif dan data self-concept. Instrumen yang digunakan sebanyak 12 soal tes kemampuan berpikir kreatif dan 31 pernyataan mengenai self-concept. Dalam perhitungan ujicoba intrumen menggunakan program Anates dan perhitungan statistik menggunakan SPSS 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-concept mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.

Kata kunci: Kemampuan Berpikir kreatif dan Self-concept

A.      Latar Belakang

Menurut Harris (Mina, 2005) banyak pemikiran yang dilakukan dalam pendidikan matematika formal hanya menekankan pada keterampilan analisis mengajarkan bagaimana siswa memaham iklaim-klaim, mengikuti atau menciptakan suatu argument logis, menggambarkan jawaban, mengeliminasi jalur yang tak benar dan focus pada jalur yang benar. Sedangkan jenis berpikir lain yaitu berpikir kreatif yang fokus pada penggalian ide-ide, memunculkan kemungkinan-kemungkinan, mencari banyak jawaban benar dari pada satu jawaban kurang diperhatikan.

Tingkat kreativitas anak-anak Indonesia dibandingkan negara-negara lain berada pada peringkat yang rendah. Informasi ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Hans Jellen dari Universitas Utah, Amerika Serikat dan Klaus Urban dari Universitas Hannover, Jerman(Supriadi, 1994:85).dari 8 negara yang diteliti, kreativitas anak-anak Indonesia adalah yang terendah. Berikut berturut-turut dari yang tertinggi sampai yang terendah rata-rata skor tesnya adalah: Filipina, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu, dan terakhir Indonesia. Apabila hasil penelitian tersebut benar menggambarkan keadaan yang sesungguhnya mengenai kreativitas anak-anak Indonesia, menurut beberapa dugaan, penyebab rendahnya kreativitas anak-anak Indonesia adalah lingkungan yang kurang menunjang anak-anak tersebut mengekspresikan kreativitasnya, khususnya lingkungan keluarga dan sekolah.

Rendahnya kemampuan berpikir kreatif juga dapat berimplikasi pada rendahnya prestasi siswa. Menurut Wahyudin (2000: 223) di antara penyebab rendahnya pencapaian siswa dalam pelajaran matematika adalah proses pembelajaran yang belum optimal. Dalam proses pembelajaran umumnya guru sibuk sendiri menjelaskan apa-apa yang telah dipersiapkannya. Demikian juga siswa sibuk sendiri menjadi penerima informasi yang baik. Akibatnya siswa hanya mencontoh apa yang dikerjakan guru, tanpa makna dan pengertian sehingga dalam menyelesaikan soal siswa beranggapan cukup dikerjakan seperti apa yang dicontohkan. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan alternatif lain dapat disebabkan karena siswa kurang memiliki kemampuan fleksibilitas yang merupakan komponen utama kemampuan berpikir kreatif.Fakta menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kemampuan berpikir kreatif dalam matematika beserta implikasinya, dengan demikian adalah perlu untuk memberikan perhatian lebih pada kemampuan ini dalam pembelajaran matematika saat ini.

Pentingnya pengembangan kreativitas bagi siswa sekolah telah tertulis dalam tujuan pendidikan nasional Indonesia dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor. 22 tahun 2006 tentang standar isi khususnya untuk pembelajaran matematika. Akan tetapi pada praktek di lapangan pengembangan kreativitas masih terabaikan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Munandar (1996) bahwa pada beberapa kasus sekolah cenderung menghambat kreativitas, antara lain dengan mengembangkan kekakuan imajinasi. Kasus tersebut sampai saat ini masih terjadi dalam sistem belajar di Indonesia dikarenakan kurangnya perhatian terhadap masalah kreativitas dan  penggaliannya khususnya dalam matematika.

Selain kemampuan berpikir kreatif, terdapat aspek psikologi yang turut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Aspek psikologis tersebut adalah self-concept. Ritandiyono dan Retnaningsih (Leonard, 2008) menyatakan Self-concept bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk melalui pengalaman individu dalamberhubungan dengan orang lain. Oleh karena pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya.Sudah menjadi suatu kondisi yang alami bahwa setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Hal ini dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan merefleksi dirinya sendiri yang disebut “self-concept” (R. B. Burns, 1993). Oleh Karena itu penulis mengajukan sebuah studi dengan judul : “Hubungan Antara Self-Concept siswa dan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa”.

B.       Tujuan penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya hubungan antara self-concept siswa dan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa?

C.      Definisi operasional

Kemampuan berpikir kreatif matematik adalah kemampuan dalam matematika yang meliputi empat kemampuan yaitu: kelancaran, keluwesan, keaslian dan elaborasi. Kelancaran adalah kemampuan menjawab masalah matematika secara tepat. Keluwesan adalah kemampuan menjawab masalah matematika, melalui cara yang tidak baku. Keaslian adalah kemampuan menjawab masalah matematika dengan menggunakan bahasa, cara, atau idenya sendiri. Elaborasi adalah kemampuan memperluas jawaban masalah, memunculkan masalah baru atau gagasan baru

Dalam penelitian ini “self-concept” memiliki 4 dimensi yang hendak diukur, yaitu: Pengetahuan, Harapan, dan Penilaian. Dimensi pengetahuan mengenai apa yang siswa ketahui tentang matematika, indikatornya yaitu pandangan siswa terhadap matematika dan pandangan siswa terhadap kemampuan matematika yang dimilikinya. Dimensi harapan mengenai pandangan siswa tentang pembelajaran matematika yang ideal, indikatornya yaitu manfaat dari matematika dan pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika. Dimensi penilaian mengenai seberapa besar siswa menyukai matematika, indikatornya yaitu ketertarikan siswa terhadap matematika dan ketertarikan siswa terhadap soal-soal berpikir kreatif.

D.      Hipotesis penelitian

Hipotesis penelitian untuk diajukan dalam penelitian ini dengan rumusan hipotesis yaitu: Self-concept siswa tentang matematika mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.

E.        KAJIAN PUSTAKA
1.      Self-concept
a.      Pengertian

Batasan-batasan tentang self-concept telah banyak diberikan oleh para ahli, meskipun isi pengertiannya hampir sama atau memiliki berbagai kesamaan. Namun, dengan adanya berbagai macam batasan itu justru dapat saling melengkapi. Pada setiap batasan mengenai pengertian self-concept itu selalu terdapat elemen persamaan yang menunjukkan bahwa pada self-concept itu ada pandangan individu terhadap dirinya sendiri.

Menurut Hurlock (1978:6), self-concept merupakan gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri yang meliputi fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi yang telah dicapainya. Segi fisik meliputi penampilan fisik, daya tarik dan kelayakan.Sedang segi psikologis meliputi pikiran, perasaan, penyesuaian keberanian, kejujuran, kemandirian, kepercayaan serta aspirasi.

Welsh dan Blosch (1978:104), seperti yang dikutip oleh Hall, berpendapat bahwa: “The self concept is defined as the set of perceptions and feelings that and individual holds about himself. It also includes self esteem with all of its parts considered as a whole”. Titik berat pada definisi ini adalah pada serangkaian persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan tentang dirinya. Persepsi-persepsi ini mencakup pengetahuan, pengertian, interpretasi dan penilaian. Namun, masih ditegaskan lagi dalam evaluasi diri terhadap bagian-bagian, tingkatan yang dipertimbangkan sebagai suatu keseluruhan.

Pada dasarnya, manusia mempunyai banyak self, yaitu “real self”, “ideal self” dan “social self” (Hurlock, 1978:8)”. Real self adalah sesuatu yang diyakini seseorang sebagai dirinya. “Social self” merupakan apa yang dianggap orang ada pada dirinya, sedangkan “ideal self” adalah harapan seseorang terhadap dirinya. Jadi, self-concept sebagai inti kepribadian merupakan aspek yang paling penting terhadap mudah tidaknya individu mengembangkan kepribadian.Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa self-concept merupakan perasaan seseorang mengenai diri sendiri.Self-concept ini menjadi fokus pembentukan kepribadian dan sekaligus menjadi inti kepribadian yang selanjutnya akan menentukan pengembangan kepribadiannya.

Pendapat ahli lain yaitu Shavelson, seperti yang dikutip Cronbach, mengemukakan bahwa pengertian self-concept bukan hanya persepsi individu tentang dirinya, tetapi juga persepsi individu tentang persepsi orang lain mengenai individu tersebut. Menurutnya, bahwa terbentuknya self-concept itu melalui pengalaman, interpretasi terhadap lingkungan, dan diperkuat oleh penilaian orang lain terutama orang yang berarti bagi diri individu tersebut bahwa self-concept itu bersegi banyak (multi facet) (Lee J. Cronbach. 1964:45).

Bahwa self-concept itu merupakan suatu sistem, yaitu terdiri dari facet-facet yang terstruktur, terorganisir, berhubungan satu sama lain. Bahwa self-concept itu bersifat hirarkhis yaitu tersusun dari bagian yang umum abstrak menuju semakin khusus kongkrit.Demikian pula stabilitasnya turut bertingkat, yang umum bersifat stabil, semakin khusus semakin labil.Bahwa self-concept itu semakin multifacet, seirama dengan perkembangan anak menuju khusus kongrit secara hirarkhis, maka self-concept dapat di deskripsikan dan dapat dinilai.

Batasan yang diberikan oleh Carl R. Rogers pada buku Burns (1979:39) antara lain dinyatakan sebagai berikut :

“Self-concept may be thought of as an organized configuration of perceptions of the self .  It is composed of such elements as the perceptions of one’s characteristics and abilities; the percepts and concepts of self in relation to others and to the environment; the value qualities which are perceived as associated with experiences and objects and goals and ideals which are perceived as having positive or negative valence”.

Burns berpendapat, self-concept merupakan suatu bentuk atau susunan yang teratur tentang persepsi-persepsi diri.Self-concept atau self-concept mengandung unsur-unsur seperti persepsi seorang individu mengenai karakteristik-karakteristik serta kemampuannya; persepsi dan pengertian individu tentang dirinya dalam kaitannya dengan orang lain dan lingkungannya; persepsi individu tentang kualitas nilai yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman dirinya dan obyek yang dihadapi; dan tujuan-tujuan serta cita-cita yang dipersepsi sebagai sesuatu yang memiliki nilai positif atau negatif.

Self-concept itu meliputi suatu kognisi seseorang mengenai tanggapan penilaian yang dilakukannya tentang persepsi aspek-aspek dirinya, suatu pemahaman tentang gambaran orang lain mengenai dirinya, dan kesadaran penilaian dirinya yaitu gagasannya tentang bagaimana seharusnya dirinya dan bagaimana cara seharusnya yang dilakukannya.

b.      Dimensi Self-concept

Konsep diri adalah pandangan individu tentang dirinya sendiri. Adapun dimensi-dimensi konsep diri ialah:

1. Pengetahuan

Dimensi pertama dari konsep diri adalah apa yang kita ketahui tentang diri sendiri. Dalam benak kita ada satu daftar julukan yang menggambarkan diri kita yaitu usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dalam memberikan dan menambah daftar julukan tentang diri kita dapat dilakukan dengan mengidentifikasikan dan membandingkannya diri sendiri dengan kelompok sosial lain dan hal itu merupakan perwujudan seberapa besar kualitas diri kita dibandingkan dengan orang lain. Kualitas yang ada pada diri kita hanyalah bersifat sementara, sehingga perilaku individusuatu saat bisa berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi padakelompok sosial dalam lingkungannya.

2. Harapan

Pada saat individu mempunyai pandangan tentang siapa dirinya,individu juga mempunyai seperangkat pandangan yang lain yaitutentang kemungkinan individu akan menjadi apa di masa yang akandatang dan pengharapan ini merupakan gambaran diri yang ideal dariindividu tersebut.

3. Penilaian

Dalam hal penilaian terhadap diri sendiri, individu berkedudukansebagai penilai tentang dirinya dalam hal pencapaian pengharapan,pertentangan dalam dirinya, standar kehidupan yang sesuai dengandirinya yang pada akhirnya menentukan dalam pencapaian hargadirinya yang pada dasarnya berarti seberapa besar individu dalammenyukai dirinya sendiri, (James F. Calhoun dan Joan Acocella,1995).

2.      Kemampuan Berpikir kreatif Matematik

Secara singkat berpikir kreatif dapat dikatakan sebagai pola berpikir yang didasarkan pada suatu cara yang mendorong kita untuk menghasilkan produk yang kreatif. Masih banyak definisi yang berkaitan dengan kreativitas, namun pada intinya ada persamaan antara definisi-definisi tersebut, yaitu kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. Sesuatu yang baru disini tidak harus berupa hasil/ciptaan yang benar­benar baru walaupun hasil akhirnya mungkin akan tampak sebagai sesuatu yang baru, tetapi dapat berupa hasil penggabungan dua atau lebih konsep-konsep yang sudah ada.

Berbagai definisi terkandung dalam pengertian yang berakaitan dengan istilah kreativitas atau cara berpikir kreatif. Istilah kreativitas terkadang tidak dibedakan dengan istilah berpikir kreatif. Menurut Munandar (2004:37) menyatakan bahwa berpikir kreatif disebut juga berpikir divergen atau kebalikan dari berpikir konvergen. Berpikir divergen yaitu berpikir untuk memberikan macam-macam kemungkinan jawaban benar ataupun cara terhadap suatu masalah berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada jumlah dan kesesuaian. Sedangkan, berpikir konvergen yaitu berpikir untuk memberikan satu jawaban terhadap suatu masalah berdasarkan informasi yang diberikan.

Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu hal baru bagi siswa yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasa ia lakukan. Untuk mencapai hal ini seseorang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan tidak tinggal diam saja menunggu. Evans (1991:98) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat unsur yaitu: Kepakaan (Sensitivity), Kelancaran (Fluency), Keluwesan (Flexibility), dan Keaslian (Originality).

Berkaitan dengan kepekaan, kelancaran, keluwesan, dan keaslian dalam proses berpikir yang melahirkan gagasan (kreatif) dipandang perlu adanya suatu tindakan lanjut untuk membenahi serta menata dengan baik, teratur, dan rinci apa yang telah dihasikan. Hal ini perlu dilaksanakan agar siswa tidak kehilangan kesempatan dalam suasana belajar, terutama sebelum siswa sempat lupa akan ide-ide yang baik. Penataan yang teratur dan rinci ini membuka kesempatan padanya untuk sewaktu-waktu dapat mengulangi atau membaca serta menkaji kembali apa yang siswa pelajaran dan hasilkan. Guilford menemukan sifat-sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), penguraian (elaboration) dan perumusan kembali (redefinition). (Supriadi,1997: 7).

Menurut Utami Munandar redefinisi memerlukan kemampuan untuk menghentikan interpretasi lama dari obyek-obyek yang telah dikenal dalam rangka menggunakannya atau bagian-bagiannya dalam beberapa cara baru. Sementara itu, menurut Williams  bahwa kemampuan yang berkaitan dengan berpikir kreatif ini ada delapan kemampuan, empat dari ranah kognitif dan empat dari ranah afektif. Berikut ini empat kemampuan dari ranah kognitif disebutkan secara lengkap oleh Williams yaitu sebagai berikut yaitu Berpikir lancar, Berpikir luwes, Orisinal, dan Terperinci

Masih terdapat beberapa ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikemukakan oleh para ahli di bidang tersebut. Namun, dari beberapa ciri-ciri yang dikemukakan pada intinya lebih banyak perasamaan. Dari beberapa ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang telah diungkapkan menurut Williams tampak jelas dan terperinci. Oleh karena itu, penulis menggunakan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Williams sebagai ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikembangakan dalam penelitian ini.

F.     Metode Penelitian

1.      Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik korelasi yaitu mencari hubungan antara self-concept dengan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 13 Jakarta.

2.      Subjek Punelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 13 Jakarta semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Dipilih dua kelas secara acak dari populasi sebanyak 68 siswa untuk dijadikan sampel penelitian.

3.      Instrumen Penelitian

Pengembangan instrumen variabel self-concept siswa tentang matematika diawali dengan penyusunan 31 butir pernyataan yang dilengkapi dengan 4 pilihan jawaban yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju), Setiap pilihan jawaban yang diajukan memiliki skor antara 1 sampai 4. Skor variabel dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh skor butir. Proses kalibrasi instrumen dilaksanakan dengan melakukan ujicoba kepada 60 responden. Pada tahap ujicoba instrumen dilakukan pengujian validitas butir soal dan perhitungan  koefisien reliabilitas. Pada penelitian ini, pengujian validitas skala self-concept juga dilakukan oleh dosen pembimbing dan pakar self-concept di UHAMKA. Berorientasi pada validitas konstruk dan validitas isi, berupa dimensi dan indikator yang hendak diukur, redaksi setiap butir pernyataan, keefektifan susunan kalimat dan koreksi terhadap bentuk format yang digunakan.

Data self-concept  yang awalnya merupakan data ordinal di konversi menjadi data interval Menurut Al-Rasyid (1994), menaikkan data dari skala ordinal menjadi skala interval dinamakan transformasi data. Transformasi data ini, dilakukan diantaranya adalah dengan menggunakan Metode Sucsesive Interval. Pada umumnya jawaban responden yang diukur dengan menggunakan skala likert (Lykert scale) diadakan scoring yakni pemberian nilai numerikal 1, 2, 3, dan 4, setiap skor yang diperoleh akan memiliki tingkat pengukuran ordinal. Nilai numerikal tersebutdianggap sebagai objek dan selanjutnya melalui proses transformasiditempatkan ke dalam interval.

Tes Matematika yang digunakan berupa tes kemampuan berpikir kreatif. Agar kemampuan berpikir kratif matematik siswa dapat terlihat dengan jelas maka tes  dibuat dalam bentuk uraian. Untuk memperoleh soal tes yang baik maka soal tes tersebut harus dinilai validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Untuk mendapatkan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda maka soal tersebut terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas lain disekolah pada tingkat yang sama. untuk menghitung validitas butir soal reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda menggunakan program Anatesv4 yang dikembangkan oleh To dan wibisono.

G.    Hasil Penelitian dan Pembahasan

Untuk melihat seberapa kuat hubungan antara self-concept dan kemampuan berpikir kreatif, maka dilakukan uji korelasi Pearson denganα = 0,05 dan hipotesisnya adalah

keterangan : korelasi antara self-concept dengan kemampuan berpikir kreatif

Tabel 1. Hasil Uji Korelasi self-concept dan kemampuan berpikir kreatif

Self-concept

Postes

Self-concept Pearson Correlation

1

0,619

Sig. (1-tailed)

0,000

N

68

68

Kreatif Pearson Correlation

0,619

1

Sig. (1-tailed)

0,000

N

68

68

Dari Tabel 1, diperoleh hasil korelasi antara self-concept dan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 0,619 dan nilai signifikansi (sig) sebesar 0,000. Harga korelasi  yang diperoleh adalah 0,619 yang artinya tingkat hubungannya tergolong kuat. Karena nilai signifikansi0,000 lebih kecil dari α = 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan antara self-concept dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Harga koefisien determinannya dihitung dengan rumus KD = r2 × 100%   (Riduwan, 2004), dan diperoleh harganya sebesar 38,32% yang artinya bahwa 38,32% variasi di dalam berpikir kreatif dapat dijelaskan oleh variasi dalam self-concept.

Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara self-concept dengan kemampuan berpikir kreatif maka dilakukan pengujian koefisien regresi dengan menggunakan analisis regresi linier. Analisis ini dilakukan untuk melihat pengaruh langsung dari self-concept siswa terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Hipotesis yang diuji adalah:

Hipotesis penelitian untuk melihat self-concept siswa tentang matematika yaitu “Self-concept siswa tentang matematika mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa”.

Rumusan hipotesis uji perbedaan rerata  Self-Concept adalah

H0   :    Self-concept siswa tentang matematika dalam pembelajaran berbantuan Geogebra tidak mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa

H1   :    Self-concept siswa tentang matematika dalam pembelajaran berbantuan Geogebra mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.

Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 2

Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Self-Concept dengan

Kemampuan Berpikir Kreatif

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1 (Constant)

-1,875

4,689

-0,400

0,690

Self-concept

0,313

0,049

0,619

6,410

0,000

a. Dependent Variable: POSTES

Dari tabel diatas dapat diketahui persamaan regresinya adalah   yang artinya, semakin besar nilai self-concept siswa maka semakin besar kemampuan berpikir kreatif siswa, begitu juga sebaliknya.

Karena nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya secara signifikan Self-concept siswa tentang matematika dalam pembelajaran berbantuan Geogebra mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.

H.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data untuk pengujian hipotesisnya,  kesimpulan dari temuan yang diperoleh adalah Self-concept siswa tentang matematika dalam pembelajaran berbantuan Geogebra secara umum mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.

I.       Saran

Self-concept yang ditelaah pada penelitian ini merupakan Self-concept yang terkait dengan kemampuan berpikir kreatif. Peneliti selanjutnya dapat meneliti Self-concept siswa yang terkait dengan kemampuan matematik lainnya. Peneliti selanjutnya dapat menelaah bagaimana kemampuan matematik yang dimiliki siswa jika ditinjau dari Self-concept yang dimilikinya.

J.      Daftar Pustaka

Burns, R. B. 1979. The Self Concept in Theory Measurement, Development and Behavior. London. Longman Group UK Ltd.

             . 1993. Konsep Diri, Teori, pengukuran dan perilaku, Alih Bahasa : Eddy. Jakarta: Arcan.

Cronbach, L. J. 1964. Educational Psychology. New York: Harcourt, Brace & Company.

Calhoun J. F danAcocella, J. R. 1995. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan (EdisiTerjemahan): Semarang: IKIP Semarang Press.

Crow, L. D. and Crow,A. 1984.Psikologi Pendidikan. Terjemahan Kasjan. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Dennis K.F. 2008. Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta: PT. Prestasi pustaka raya

Dewanto, S. P. 2007. Meningkatkan Kemampuan Representasi Multiple Matematis Melalui Belajar Berbasis-Masalah. Disertasi. UPI: Tidak diterbitkan

Evans, J.R. 1991. Creative Thinking in the Decision and Management Sciences.USA: South-Western Publishing Co.

Hall, C.S. and Lindzey,G.. 1978. Theories of Personality.Third Edition. New York: John Willey and Sons, Inc.

Hays, W. L, 1976.Quantification in Psychology.Prentice Hall.New Delhi.

Hurlock, E. B. 1978. Developmental Psychology. Edisi 4. New Delhi: Tata McGraw Hill.

Nasution, A. H. 1978. LandasanMatematika. Jakarta: Bharata.

Nasution, S. 2000. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Mina,E. 2005. Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa SMA Bandung.Bandung: Tesis SPS UPI: Tidak diterbitkan.

Munandar, U. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Pudjijogyanti.1988. Konsep Diri dan Pendidikan. Jakarta : Arcan.

Roestiyah. 1999. Masalah-masalah Ilmu Keguruan.Jakarta: PT. Bina Aksara.

Sarwono, S.W. 1974. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.

Silvernail, David. 1985. Developing Positive Student Self-Concept. 2nd Ed. Washington DC: National Education Associatess.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R & D. Bandung : CV Alfabeta

Supriadi, D. (1994). Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.

Suriasumantri, J. S. 1982. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Supriadi, D. 1997. Kreatifitas Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta

Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

To, Karno (1996).MengenalAnalisisTes (Pengantarke Program Komputer ANATES). Bandung: FIP IKIP Bandung

Wahyudin. (1999). Kemampuan Guru Matematika, Calon  Guru  Matematik,  dan Siswa dalam Mata Pelajaran Matematika. Bandung: Disertasi PPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Winkel. 1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

Kuliah

dulu waktu s2..

tugas 1 semester hanya ada 1 untuk 1 mata kuliah

sekarang s3..

tugas 1 semester minimal 14 untuk 1 mata kuliah

dulu waktu s2..

jakarta – upi – jalan2 – kosan – jalan – kosan -upi – jalan2 – kosan – upi – jakarta

sekarang s3..

jakarta – upi – kosan – upi – kosan – upi – jakarta

dulu waktu s2..

sekelas ada 25 an lebih

sekarang s3..

sekelas 15 orang <– mau bolos ketahuan

masih banyak lagi perbedaan perbedaan antara S2 dan S3 dan baru kali ini ngerasa beneran kuliah karena tugas yang banyak sekali.

walaupun banyak yang beda hanya ada 1 yang sama, yaitu : sekelas sama ishaq dan 1 kosan dengan ishaq.. hehe..🙂

Pengaruh Pembelajaran Berbantuan Geogebra Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

Pengaruh Pembelajaran Berbantuan Geogebra

Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

(Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa Suatu SMPN di Jakarta)

 

Risqi Rahman

Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka, Indonesia

risqirahman@yahoo.co.id

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan pengaruh pembelajaran Berbantuan Geogebra terhadap kemampuan berpikir kreatif, peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Desain penelitian ini adalah kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol pretes dan postes. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran Berbantuan geogebra dan kelompok kontrol memperoleh pembelajaran konvensional. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kreatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMPNegeri 13 Jakarta dengan sampel penelitian siswa kelas VII sebanyak dua kelas yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data postes dan gain ternormalisasi kemampuan berpikir kreatif antara kedua kelompok sampel dengan menggunakan uji perbedaan rerata dua populasi. Instrumen yang digunakan sebanyak 12 soal tes kemampuan berpikir kreatif. Dalam perhitungan ujicoba intrumen menggunakan program Anates dan perhitungan statistik menggunakan SPSS 17. Untuk mencari perbedaan rata-rata digunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran Berbantuan geogebra lebih baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

Kata kunci: Pembelajaran Berbantuan geogebra, Kemampuan Berpikir kreatif.

A.      Latar belakang

Pembelajaran matematika memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif, dan bekerja sama yang diperlukan siswa dalam kehidupan modern. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor. 22 tahun 2006 tentang standar isi). Oleh  karena  itu  pembelajaran  matematika  memiliki  sumbangan  yang penting   untuk   perkembangan   kemampuan   berpikir  kreatif  dalam  diri  setiap individu siswa agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Rendahnya kemampuan berpikir kreatif juga dapat berimplikasi pada rendahnya prestasi siswa. Menurut Wahyudin (2000: 223) di antara penyebab rendahnya pencapaian siswa dalam pelajaran matematika adalah proses pembelajaran yang belum optimal. Dalam proses pembelajaran umumnya guru sibuk sendiri menjelaskan apa-apa yang telah dipersiapkannya. Demikian juga siswa sibuk sendiri menjadi penerima informasi yang baik. Akibatnya siswa hanya mencontoh apa yang dikerjakan guru, tanpa makna dan pengertian sehingga dalam menyelesaikan soal siswa beranggapan cukup dikerjakan seperti apa yang dicontohkan. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan alternatif lain dapat disebabkan karena siswa kurang memiliki kemampuan fleksibilitas yang merupakan komponen utama kemampuan berpikir kreatif. Fakta menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kemampuan berpikir kreatif dalam matematika beserta implikasinya, dengan demikian adalah perlu untuk memberikan perhatian lebih pada kemampuan ini dalam pembelajaran matematika saat ini.

Beragam teknik pembelajaran telah dikembangkan oleh para praktisi dan peneliti pendidikan dalam upaya mengatasi dan mengeliminasi masalah pendidikan yang terjadi di lapangan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, diperlukan suatu cara pembelajaran dan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kemampuan tersebut. Sehingga pembelajaran dapat merangsang siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu teknik pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran Matematika yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar kreatif, dan lebih aktif adalah dengan teknik pembelajaran menggunakan teknologi komputer yang di dalamnya terdapat program Geogebra sehingga diharapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematika siswa dapat ditunjukkan dan meningkat.

Ada beberapa pertimbangan tentang penggunaan dynamic geometry software seperti Geogebra dalam pembelajaran matematika, khususnya geometri. Menurut David Wees (2009) Geogebra memungkinkan siswa untuk aktif dalam membangun pemahaman geometri. Program ini memungkinkan visualisasi sederhana dari konsep geometris yang rumit dan membantu meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep tersebut.  Ketika siswa menggunakan dynamic geometry software seperti Geogebra, mereka akan selalu selalu berakhir dengan pemahaman yang lebih mendalam pada materi geometri (putz, 2001) hal ini mungkin terjadi karena siswa diberikan representasi visual yang kuat pada objek geometri, di mana siswa terlibat dalam kegiatan mengkonstruksi sehingga mengarah kepada pemahaman geometri yang mendalam.

Dengan menggunakan Geogebra siswa dapat mengkontruksi titik, vektor, ruas garis, garis, fungsi dan lain sebagainya kemudian dapat membantu siswa untuk memvisualisasikan bentuk bangun datar segi empat lebih rinci beserta ukuran-ukurannya sehingga mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa Oleh karena itu penulis mengajukan sebuah studi  dengan judul: Pengaruh Pembelajaran Berbantuan Geogebra Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa

B.       Tujuan penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh pembelajaran berbantuan program Geogebra terhadap kemampuan berpikir kreatif matematik siswa.

C.      Definisi  operasional

Kemampuan berpikir kreatif matematik adalah kemampuan dalam matematika yang meliputi empat kemampuan yaitu: kelancaran, keluwesan, keaslian dan elaborasi. Kelancaran adalah kemampuan menjawab masalah matematika secara tepat. Keluwesan adalah kemampuan menjawab masalah matematika, melalui cara yang tidak baku. Keaslian adalah kemampuan menjawab masalah matematika dengan menggunakan bahasa, cara, atau idenya sendiri. Elaborasi adalah kemampuan memperluas jawaban masalah, memunculkan masalah baru atau gagasan baru

Pembelajaran berbantuan program Geogebra adalah pembelajaran yang dimulai dengan meyiapkan materi yang relevan dengan konsep yang akan dipelajari dan dalam pembelajaran tersebut siswa bekerja secara berkelompok dengan guru sebagai fasilitator. Dalam pembelajaran ini juga siswa menggunakan alat bantu komputer yang didalamnya terdapat program Geogebra.

D.      KAJIAN PUSTAKA

1.        Kemampuan Berpikir kreatif Matematik

Secara singkat berpikir kreatif dapat dikatakan sebagai pola berpikir yang didasarkan pada suatu cara yang mendorong kita untuk menghasilkan produk yang kreatif. Masih banyak definisi yang berkaitan dengan kreativitas, namun pada intinya ada persamaan antara definisi-definisi tersebut, yaitu kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. Sesuatu yang baru disini tidak harus berupa hasil/ciptaan yang benar­benar baru walaupun hasil akhirnya mungkin akan tampak sebagai sesuatu yang baru, tetapi dapat berupa hasil penggabungan dua atau lebih konsep-konsep yang sudah ada.

Berbagai definisi terkandung dalam pengertian yang berakaitan dengan istilah kreativitas atau cara berpikir kreatif. Istilah kreativitas terkadang tidak dibedakan dengan istilah berpikir kreatif. Menurut Munandar (2004:37) menyatakan bahwa berpikir kreatif disebut juga berpikir divergen atau kebalikan dari berpikir konvergen. Berpikir divergen yaitu berpikir untuk memberikan macam-macam kemungkinan jawaban benar ataupun cara terhadap suatu masalah berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada jumlah dan kesesuaian. Sedangkan, berpikir konvergen yaitu berpikir untuk memberikan satu jawaban terhadap suatu masalah berdasarkan informasi yang diberikan.

Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu hal baru bagi siswa yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasa ia lakukan. Untuk mencapai hal ini seseorang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan tidak tinggal diam saja menunggu. Evans (1991:98) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat unsur yaitu: Kepakaan (Sensitivity), Kelancaran (Fluency), Keluwesan (Flexibility), dan Keaslian (Originality).

Berkaitan dengan kepekaan, kelancaran, keluwesan, dan keaslian dalam proses berpikir yang melahirkan gagasan (kreatif) dipandang perlu adanya suatu tindakan lanjut untuk membenahi serta menata dengan baik, teratur, dan rinci apa yang telah dihasikan. Hal ini perlu dilaksanakan agar siswa tidak kehilangan kesempatan dalam suasana belajar, terutama sebelum siswa sempat lupa akan ide-ide yang baik. Penataan yang teratur dan rinci ini membuka kesempatan padanya untuk sewaktu-waktu dapat mengulangi atau membaca serta menkaji kembali apa yang siswa pelajaran dan hasilkan. Guilford menemukan sifat-sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), penguraian (elaboration) dan perumusan kembali (redefinition). (Supriadi,1997: 7).

Menurut Utami Munandar redefinisi memerlukan kemampuan untuk menghentikan interpretasi lama dari obyek-obyek yang telah dikenal dalam rangka menggunakannya atau bagian-bagiannya dalam beberapa cara baru. Sementara itu, menurut Williams  bahwa kemampuan yang berkaitan dengan berpikir kreatif ini ada delapan kemampuan, empat dari ranah kognitif dan empat dari ranah afektif. Berikut ini empat kemampuan dari ranah kognitif disebutkan secara lengkap oleh Williams yaitu sebagai berikut yaitu Berpikir lancer, Berpikir luwes, Orisinal, dan Terperinci

Masih terdapat beberapa ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikemukakan oleh para ahli di bidang tersebut. Namun, dari beberapa ciri-ciri yang dikemukakan pada intinya lebih banyak perasamaan. Dari beberapa ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang telah diungkapkan menurut Williams tampak jelas dan terperinci. Oleh karena itu, penulis menggunakan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Williams sebagai ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif yang dikembangakan dalam penelitian ini.

2.        Program Geogebra

Geogebra merupakan Software yang dikembangkan oleh Markus Hohenwarter. Program komputer yang bersifat dinamis dan interaktif untuk mendukung pembelajaran dan penyelesaian persoalan matematika khususnya geometri, aljabar, dan kalkulus. Sebagai sistem geometri dinamik,  konstruksi pada Geogebra dapat dilakukan dengan titik, vektor, ruas garis, garis, irisan kerucut, fungsi.

Program Geogebra sangat membantu kita yang ingin mempelajari konstruksi geometri. Dengan Geogebra kita bisa membuat konstruksi berbagai bangun geometri (dimensi 2) beserta hubungan antara mereka. Pada program Geogebra tersedia menu menggambar, mulai dari menggambar garis sampai menggambar konflik antara lingkaran dan garis. Walaupun terlihat sederhana karena banyaknya menu yang disediakan, tetapi untuk mengkonstruk gambar ternyata tidak sederhana karena kita masih harus berpikir barbagai macam konsep geometri.

E.       METODE PENELITIAN

1.        Desain penelitian

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen. Pada kuasi eksperimen ini subyek tidak dikelompokkan secara acak, tetapi peneliti menerima keadaan subjek apa adanya. Penggunaan desain dilakukan dengan pertimbangan bahwa, kelas yang ada telah terbentuk sebelumnya, sehingga tidak dilakukan lagi pengelompokkan secara acak.

Penelitian dilakukan pada siswa dari dua kelas yang memiliki kemampuan setara dengan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Kelompok pertama diberikan pembelajaran komputer dengan program Geogebra. Kelompok pertama ini merupakan kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional

Desain pada penelitian ini berbentuk:

Kelompok eksperimen            O         X         O

Kelompok kontrol                  O         –          O

Keterangan :

X :    Pembelajaran berbantuan program Geogebra

O :    Tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan siswa (pretes = postes)

2.        Subjek Penelitian

Penelitian  dilaksanakan di SMP Negeri 13 Jakarta. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 13 Jakarta tahun pelajaran 2009/2010. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 13 Jakarta.  dipilih dua kelas secara acak dari populasi terjangkau untuk dijadikan sampel penelitian. Karena desain penelitian menggunakan desain ”Kelompok Kontrol Non-Ekivalen”, maka penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik ”Purposive Sampling”, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2005: 54)

a.        Instrumen Penelitian

Data dalam penelitian ini  diperoleh dengan menggunakan instrumen yang disusun dalam bentuk tes yang dijawab oleh responden secara tertulis. Instrumen yang digunakan berupa Tes Matematika.

Tes Matematika yang digunakan berupa tes kemampuan berpikir kreatif. Agar kemampuan berpikir kratif matematik siswa dapat terlihat dengan jelas maka tes  dibuat dalam bentuk uraian. Untuk memperoleh soal tes yang baik maka soal tes tersebut harus dinilai validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Untuk mendapatkan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda maka soal tersebut terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas lain disekolah pada tingkat yang sama. untuk menghitung validitas butir soal reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda menggunakan program Anatesv4 yang dikembangkan oleh To dan wibisono.

b.        Analisis Data Tes Kemampuan Berpikir Kreatif

Untuk mengetahui terdapat tidaknya perbedaan kemampuan berpikir matematik siswa pada pembelajaran menggunakan program Geogebra dan yang pembelajarannya konvensional perlu dilakukan uji perbedaan rerata. Kemampuan berpikir kreatif matematik siswa dapat diketahui menggunakan instrumen berupa tes.

Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data yang menjadi syarat untuk menentukan jenis statistik yang  digunakan dalam analisis selanjutnya. Statistik yang digunakan untuk uji normalitas adalah  One-Sample Kolmogorov- Smirnov.

Homogenitas

Bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang memiliki variansi homogen (sama). Karena penelitian ini  dianalisis dengan menggunakan statistik uji-t dengan penyatuan dua variansi, maka harus dipenuhi syarat homogenitas variansi. Suharsimi Arikunto berpendapat, Pengujian homogenitas sampel menjadi sangat penting apabila peneliti bermaksud melakukan generalisasi untuk hasil penelitiannya serta penelitian yang data penelitiannya diambil dari kelompok-kelompok terpisah yang berasal dari satu populasi. Untuk pengujian homogenitas dalam hal ini dapat diuji menggunakan Homogeneity of Variances (Levene Statistic).

Uji Perbedaan Rerata

Pengujian ini digunakan untuk menguji perbedaan rerata skor postes siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji statistik yang digunakan adalah Compare Mean Independent Samples Test.

F.       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.        Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan geogebra. Data yang dianalisis adalah data hasil pretes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk melihat gambaran tentang kemampuan awal kedua kelas, analisis hasil postes kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk melihat perbedaan kemampuan masing-masing kelas setelah mendapatkan perlakuan dengan pembelajaran berbantuan geogebra sekaligus mengukur peningkatan kemampuan apabila kemampuan awal siswa sama.

a.        Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif

Hasil pretes kemampuan berpikir kreatif diperoleh sebelum pembelajaran diberikan baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.

Tabel 1 Deskriptif Statistik Kemampuan Berpikir Kreatif

Kelas

N

Skor Ideal

Pretes

Postes

%

SD

%

SD

Eksperimen

34

48

17,91

37,32

5,32

29,59

61,64

4,89

Kontrol

34

17,65

36,76

6,63

26,32

54,84

6,57

 

Tabel 1 menunjukkan bahwa rerata hasil pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan. Skor rerata kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen adalah 17,91 atau 0,26 lebih tinggi daripada kelas kontrol. Persentase skor rerata dari skor ideal untuk kelas eksperimen dan kontrol masing-masing 37,32% dan 36,76%. Rerata hasil postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan. Skor rerata kemampuan pada kelas eksperimen adalah 29,59 atau 3,27 lebih tinggi daripada kelas kontrol. Persentase skor rerata dari skor ideal untuk kelas eksperimen dan kontrol masing-masing 61,64% dan 54,48%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kemampuan berpikir kreatif siswa kelas kontrol. Tabel 4.1 juga menunjukkan bahwa standar deviasi pada kelas eksperimen yang semula 5,32 menjadi 4,89  lebih kecil dari kelas kontroldari 6,63 menjadi 6,57, tetapi nilai standar deviasi yang lebih kecil ini memiliki makna bahwa variasi sebaran data pada kelas eksperimen tidak terlalu beragam. Berdasarkan tabel 4.1 rerata skor kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yang semula 17, 91 menjadi 29,59. Begitu juga pada kelas kontrol 17,65 saaat pretes menjadi 26,32 saat postes.

Hasil skor postes kemampuan berpikir kreatif siswa diperoleh setelah pembelajaran diberikan baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol..Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa rerata kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kemampuan berpikir kreatif siswa kelas kontrol.

Untuk mengetahui signifikansi perbedaan rerata postes kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol perlu dilakukan uji perbedaan rerata. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap skor postes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Uji Normalitas Data Postes Kemampuan Berpikir Kreatif

Untuk melihat apakah data postes berdistribusi normal, dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji statistik One-Sample Kolmogorov-Smirnov pada kedua kelas data.

Tabel 2 Hasil Uji Normalitas Skor Postes Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

KELAS Kolmogorov-Smirnov
Statistic dk Sig.
POSTEST KELAS EKSPERIMEN 0,110 34 0,200
KELAS KONTROL 0,127 34 0,177

Dari Tabel 2 diperoleh nilai signifikansi (sig.) sebesar 0,200 dan 0,177 masing-masing untuk skor pretes kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari nilai     ( = 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan sampel berdistribusi normal, diterima. Artinya, kedua kelas data skor postes kemampuan berpikir kreatif ini berdistribusi normal.

Uji Homogenitas Data Postes Kemampuan Berpikir Kreatif

Untuk menguji homogenitas varians kedua kelas data postes kemampuan berpikir kreatif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol digunakan uji Homogenity of Variances (Levene Statistic).

Tabel 3 Hasil Uji Homogenitas Varians Skor Postes Kemampuan Berpikir KreatifKelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Levene’s Test
F Sig.
POSTEST 0,961 0,331

 

Dari Tabel 3 untuk uji homogenitas varians terlihat nilai Levene Statistic (F)adalah sebesar 0,961 dengan nilai signifikansi sebesar 0,331. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari taraf signifikansi (a = 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan varians populasi kedua kelas data adalah homogen, diterima.Artinya, kedua kelas data skor postes kemampuan berpikir kreatif ini memiliki varians yang homogen.

Pengujian Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan terhadap kedua kelas data skor postes kemampuan berpikir kreatifkelas eksperimen dan kelas kontrol, dinyatakan bahwa  kedua kelas data berasal dari populasi yang berditribusi normal dan mempunyai varians yang homogen, maka untuk mengetahui signifikansi perbedaan rerata kedua kelas data digunakan uji statistik Compare Mean Independent Samples Test. Analisis ini dilakukan untuk melihat pengaruh langsung dari dua perlakuan yang berbeda terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.

Hipotesis penelitian untuk melihat kemampuan berpikir kreatif berdasarkan pembelajaran yaitu: “Kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan Geogebra lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional”. Rumusan hipotesis uji perbedaan rerata  postes kemampuan berpikir kreatif adalah

H0   :    Rerata kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan Geogebra sama dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional

H1   :    Rerata kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan Geogebra lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional

Tabel 4 Hasil Uji Perbedaan Dua RerataPostesKemampuan Berpikir KreatifKelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

t-test
t dk Sig. (2-tailed) Mean Difference
POSTES 2,323 66 0,023 3,265

Dari Tabel 4 di atas terlihat bahwa nilai signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar 0,023, tetapi karena dalam penelitian ini menggunakan uji satu pihak maka nilai sig. 1-tailed adalah  0,023 yaitu 0,0115 lebih kecil dari  = 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat perbedaan rerata kedua kelas data, ditolak. Berarti kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan geogebra lebih baik daripada kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

b.        Analisis Peningkatan Kemampuan Berpikir kreatif

Untuk melihat peningkatan kemampuan berpikir kreatif yang dicapai oleh siswa digunakan data gain ternormalisasi. Peningkatan juga dilihat berdasarkan masing-masing indikator kemampuan berpikir kreatif yang dicapai oleh siswa. Reratagain ternormalisasi merupakan gambaran peningkatan kemampuan berpikir kreatifbaik dengan pembelajaran berbantuan geogebra maupun dengan pembelajaran konvensional yang ditinjau secara total maupun setiap indikator.

Tabel 5 RerataN-Gain Kemampuan Berpikir Kreatif

N Kategori
N-gain EksperimenN-gain Kontrol 3434 0,37820,2859 Sedang
Rendah

Berdasarkan Tabel 5 di atas terdapat kesimpulan yang dapat diungkap, yaitu rerata gain kemampuan berpikir kreatif kelas eksperimen tergolong ke dalam kategori sedang. Rerata gain kemampuan berpikir kreatif kelas kontrol tergolong ke dalam kategori rendah. Rerata gain kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen (0,3782) lebih tinggi dibandingkan dengan  rerata gain kemampuan berpikir kreatif siswa kelas kontrol (0,2859).

Tabel 6

Rerata N-Gain Kemampuan Berpikir Kreatif Berdasarkan Indikator

Indikator Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Keterangan Keterangan
KelancaranKeluwesan

Keaslian

Terperinci

0,37820,4891

0,2279

0,3806

SedangSedang

Rendah

Sedang

0,28590,1465

0,2559

0,3244

RendahRendah

Rendah

Sedang

N = 34 (untuk kedua kelas)

Tabel 6 menunjukan bahwa rerata gain ternormalisasi di kelas eksperimen untuk kemampuan berpikir kreatif pada indikator kelancaran dan keluwesan berada pada kategori sedang, sedangkan kelas kontrol berada pada kategori rendah. Rerata gain ternormalisasi di kelas eksperimen maupun kelas kontrol untuk kemampuan berpikir kreatif pada indikator keaslian sama-sama berada pada kategori rendah. Rerata gain ternormalisasi di kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk kemampuan berpikir kreatif pada indikator terperinci sama-sama berada pada kategori sedang.

G.      SIMPULAN

Setelah dilakukan perlakuan berbeda antara dua kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen yang memperoleh pembelajaran matematika dengan berbantuan geogebra dan kelompok kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional maka berdasarkan hasil analisis data untuk pengujian hipotesisnya,  kesimpulan dari temuan yang diperoleh adalah kemampuan berpikir kreatif matematika siswa yang memperoleh pembelajaran berbantuan Geogebra lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

H.      Saran

Melihat  dan  memperhatikan  hasil  temuan dan kesimpulan penelitian, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pembelajaran dengan berbantuan geogebra memiliki manfaat positif baik bagi guru maupun siswa. Pembelajaran dengan berbantuan geogebra yang berdasar kerangka teoritisnya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, berdasarkan penelitian ini dapat memperbaiki kemampuan kreatif matematik siswa.

Pembelajaran berbantuan geogebra memakan waktu yang lebih lama dari pembelajaran konvensional. Jadi disarankan, pembelajaran berbantuan geogebra diterapkan pada topik-topik matematika yang esensial, sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuan dan prosedur matematis yang telah mereka pelajari. Melihat hasil tes kemampuan berpikir kreatif, guru sebaiknya membiasakan siswa dengan soal-soal kemampuan berpikir kreatif dan soal-soal kemampuan matematis lainnya.

Bagi peneliti berikutnya agar menelaah kelemahan pembelajaran ini dan juga agar menelaah pembelajaran ini untuk dilihat pengaruhnya pada kemampuan matematis lainnya seperti kemampuan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi dan kemampuan berpikir kritis.

I.         DAFTAR PUSTAKA

Al-Rasyid, H. 1994. Teknik Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala. Bandung: Pasca Sarjana UNPAD

Arikunto, S. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bloom, B. S. 1974. Taxonomy of Educational Objectives Attitude Inventory. New York: David Mc Kay Company Inc.

Budiarto, M.T.. 2000. Pembelajaran Geometri dan Berpikir Geometri. Dalam prosiding Seminar Nasional Matematika “Peran Matematika Memasuki Millenium III”. Jurusan Matematika FMIPA ITS Surabaya. Surabaya, 2 Nopember.

Dayono, S. 1976. Harapan Terhadap Pengarahan Pendidikan Matematika di Indonesia. Surabaya : IKIP Surabaya.

Depdikbud. 1998.  Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Dirjen, Dikti Depdikbud

Dennis K. F. 2008. Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif.  Jakarta: PT. Prestasi pustakaraya

Dewanto, S. P. 2007. Meningkatkan Kemampuan Representasi Multiple Matematis Melalui Belajar Berbasis-Masalah. Disertasi. UPI : Tidak diterbitkan

Evans, J.R. 1991. Creative Thinking in the Decision and Management Sciences. USA: South-Western Publishing Co.

Gagne, R. M. 1981. Essentials of Learning Instructions. Terjemahan Achmad A. Hinduan. Jakarta: P3G Depdikbud.

                 1987. The Conditions of Learning. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Grondlund, N. E. 1982. Constructing Achievement Test. Englewood Cliffs: Prentice Hall.

Hall, C.S. and Lindzey, G.. 1978. Theories of Personality. Third Edition. New York: John Willey and Sons, Inc.

Karsol. 1995. Dasar-Dasar Pendidikan Mipa Modul 1 – 6 (Universitas Terbuka). Jakarta: Depdikbud.

Nasution, .A. H. 1978. Landasan Matematika. Jakarta: Bharata.

Nasution, S. 2000. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Mina, E. 2005. Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa SMA Bandung. Bandung: Tesis SPS UPI: Tidak diterbitkan.

Munandar, U. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Rukhiyat, A. 2003. Pradigma Baru Hubungan Guru dengan Murid. Jakarta: Gema Widyakarya.

Ruseffendi, E.T. 1997. Pendidikan Matematika 3. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sabandar, J. 2002. Pembelajaran Geometri Dengan Menggunakan Cabri Geometry II. Kumpulan Makalah, Pelatihan. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta

Sadirman A. M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali.

Sahertian, M. A. 1985. Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Program Inservice Education. Jakarta: Rineka Cipta.

Silvernail, David. 1985. Developing Positive Student Self-Concept. 2nd Ed. Washington DC: National Education Associatess.

Sudjana, N. 1993. Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Nusantara.

             . 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R & D. Bandung : CV Alfabeta

Supriadi, D. (1994). Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.

Suriasumantri, J. S. 1982. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Suherman, E. dan Kusumah, Y. S. 1990. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung : Wijayakusumah 157

Supriadi, D. 1997. Kreatifitas Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK .Bandung: Alfabeta

The, L. G. 1985. Filsafat Matematika, Yogyakarta : Super Sukses.

To, Karno (1996). Mengenal Analisis Tes (Pengantar ke Program Komputer ANATES). Bandung: FIP IKIP Bandung

Usman, U. 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remadja Rosdakarya.

              dan Setiawari, L. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Wahyudin. (1999). Kemampuan Guru Matematika, Calon  Guru  Matematik,  dan Siswa dalam Mata Pelajaran Matematika. Bandung: Disertasi PPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Winkel. 1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

kelulusan

sesaat sebelum tidur tiba2 HP saya berbunyi tanda chat dari msn masuk

“paaak 13 lulus semua kan? kata seorang siswa melalu MSN

berdoa saja”

“yah pak udah penasaran bgt ini hahaha”

nunggu sampe besok jam 10″ kata saya

“lama banget deh pak, tapi guru udah tau kan pak hasilnya” kata dia dengan penasaran

“iyah udah tau, kan tadi rapat, tapi gak boleh dikasih tau” jawab saya

yah pelit bgt pak, sekolah lain udah ada yang tau”

“yah itu kan sekolah lain🙂 , kamu pinter kan, yakin lulus kaan” kata saya

“yakin sih pak tapi nemnya gatau hahaha”

“kalo dari rata-rata bagusan tahun ini dibandingkan tahun lalu” udah rada males nih jawabnya

ooo alhamdulillah”

“pak ayolah pak kan ini udah tanggal 4,, pak baik bgt pak bukan saya doang loh pak yang penasaran,, pak baik bgt deh pak bales dong😦 lagi ngambil berkas data nem ya pak makanya gak bales? -__-

“maaf saya harus jaga amanat” jawab saya mulai kesel

nomer rekening bapak deh brp biar saya transfer, -_- gadeng pak bercanda

Whaaaaaaaaaaaaaaaattt!!!! kaget saya membaca tulisan itu yg tadinya udah ngantuk langsung melek lagi.

“UANG SAYA MASIH BANYAAAAAKK, GAK BUTUH GITUAN”

“yee belagu bgt dah pak hahaha”

“SAYA SERIUS”

gilaa, kok bisa-bisanya tuh murid ngomong gitu. kalau pun ada guru yang seperti itu, pastinya itu bukan saya.. potret anak sekolah jaman sekarang.

Imigrasi Singapura

Setelah sampai di Bandar udara international Changi airport saudara saya mengisi ulang kartu kedatangan untuk Negara singapura, karena adanya salah penulisan pada tempat dimana kami tinggal. “udah tulis ajah di hotel, gak apa apa kok”, kata saya kepada semua rombongan kami. Saya pun menulis sleepy bed hostel – arab street, om ismail pun demikian. Tetapi adik saya, icha, fuad, dan tate ati hanya nemulis Hotel.

Ketika sampai di Imigrasi fuad mendapat giliran pertama yang di periksa dan ia pun lolos (mungkin karena masih kecil kali yah) lalu kemudian icha dan farha mereka pun lolos. Tapii pas saat nya tante ati ia ditanya-tanya, dimana kamu tinggal? (pake bahasa inggris) karena tante ati gak bisa berbahasa inggris dia pun diem ajah gak ngerti harus ngomong apa. Kemudian petugas imigrasi melihat saya dengan melototnya., “where do you live?”, kata petugas itu yang merupakan wanita bertubuh tambun. “Sleepy bed hostel mam,” kata saya yang berada dibatas garis pemeriksaan. “whaat?, kamu kesini cepaaat kasihan orang lain menunggu tulis disini segera” kata dia dengan kencangnya.

Saya pun menghampiri tante ati kemudian menuliskan kembali nama hostel tempat kami menginap lalu kembali ke dalam barisan antrian. “galak amat sih nih orang’ kata saya dalam hati. Setelah tante ati beres sekarang saatnya om ismail yang diperiksa lalu saya tetapi beda tempat dengan om ismali dan tante ati yang tadi. Karena saya menulisnya dengan lengkap saya pun langsung lolos.. horay’ kata saya, cap kesini kan udah banyak, masa di tolak sih.. hehe..

Kamipun berkumpul kembali di depan imigrasi, tapi ketika saya berkumpul saya merasa heraaan kok ada yang kuraaang jumlah kami. Om ismail manaaa??? Kata saya kepada semuanya.

Belum nyampe” kata mereka.

“hah? Tadi kan duluan om ismail baru iki. Tuh liaat di antriannya udah gak ada” saya pun mulai panic, mau nelepon HPnya gak roaming internasional, bener-bener gak bisa dihubungi.

di toilet kali” saya pun langsung masuk ke toilet dan memeriksa satu-satu, wah kok gak adaaaaa.. saya pun semakin paniik..

apa mungkin udah keluaaar? Bahaya nih kalau udah keluar’ kata saya kepada mereka, bahaya karena kita lost contact dengan om ismail.

Kami pun pergi mencarinya, tante ati pun ikut juga dan yang lain tetap ditempat supaya nyarinya gampang. Sudah 10menitan lebih gak ketemu-ketemu..

‘mau keluar tapi takut gak bisa masuk lagi” takut malah hilang semua, kamipun tetap menunggu di dekat tempat imigrasi. Setelah 15 menit menunggu akhirnya dating juga om ismail.

“bapaak kemana ajaah” kata fuad yg kesel sama bapaknya.

Kemana apanyaaa, bapak tuh di panggil sama petugas india yang tinggi dan hitam lebam ituu..

“bapak di Tanya-tanyain, mau kemana? Nginap diamna? Ini gara kalian nih isi tempat tinggalnya beda-beda semua” kata om ismail protes.

“Tadi bapak ditanya bawa uang berapa kamu kesini bersama keluarga, untung ada dolar amerika, walaupun yang USD 100 Cuma 3 lembar dan yang lainnya USD 1 dan 5 tapi banyak bapak tunjukin ajah yang atasnya (USD100) kan mereka jadi percaya tuh” kata om ismail ke anaknya. Dolar singapura nya kan di pegang mama semua. Kata om ismail lagi..

Iyah iyah om iki yang salah nih, dulu sih boleh nulis hotel ajah, sekarang kok jd gak boleh yah. Yaudah yuk kita menuju bugis beli kartu untuk naik MRT dulu.

Pesan Moral : tulislah alamat yang lengkap tempat anda tinggal di Negara yang anda kunjungi🙂